IKLAN

Dalam pandangan irfan dan urafa Muslim manusia pesuluk adalah manusia yang dengan menapaki jalan-jalan spiritual ia kembali ke tempat asalnya, menyirnakan jaraknya dengan Dzat Tuhan, dan meniadakan dirinya sendiri dengan kede
Dalam pandangan irfan dan urafa Muslim manusia pesuluk adalah manusia yang dengan menapaki jalan-jalan spiritual ia kembali ke tempat asalnya, menyirnakan jaraknya dengan Dzat Tuhan, dan meniadakan dirinya sendiri dengan kedekatan kepada-nya (fana dalam asma dan sifat Tuhan) serta mengabadikan dirinya dengan kebersamaan dengan-Nya (baqa dengan dzat-Nya).
Allah Swt berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya kamu menuju kepada Tuhan-mu dengan kerja dan usaha yang sungguh-sungguh, maka kamu pasti akan menjumpai-Nya.” (Qs. Insyiqaq: 6)
Adalah sangat mungkin menggapai “hakikat” kesempurnaan manusia dan maqam kedekatan kepada Tuhan dengan melewati “tarikat” yang merupakan batin “syariat”. Dari dimensi ini, kita akan menemui kata-kata seperti “syariat”, “tarikat”, dan “hakikat” dalam ungkapan-ungkapan para urafa.
Azizuddin Nasafi, salah seorang urafa di pertengahan abad ketujuh, dalam kitabnya, Insanul Kamil, menuliskan, “Syariat adalah perkataan para nabi dan tarikat adalah perbuatan para nabi serta hakikat adalah penglihatan para nabi. Seorang salik pertama-tama harus menuntut ilmu syariat yang merupakan suatu kewajibannya dan amal tarikat yang juga merupakan kemestiannya harus dikerjakan sedemikian sehingga dia mendapatkan cahaya-cahaya hakikat sebatas kemampuan dan usahanya.
Seseorang yang menerima apa-apa yang disabdakan oleh nabi dan rasul dikategorikan sebagai ahli syariat dan apabila dia juga mengamalkan apa-apa yang dikerjakan oleh para nabi dan rasul digolongkan sebagai ahli tarikat. Dan jika seseorang menyaksikan apa-apa yang disaksikan oleh para nabi dan rasul disebutkan sebagai ahli hakikat.
Seseorang yang mempunyai ketiga dimensi tersebut tergolong sebagai sosok yang sempurna dan khalifah segenap makhluk. Namun, seseorang yang sama sekali tidak memiliki ketiga aspek itu merupakan sosok yang rendah atau digolongkan sebagai binatang ternak. “Pada hakikatnya begitu banyak dari kalangan jin dan manusia yang kami masukkan ke dalam neraka dikarenakan mereka memiliki hati yang tidak dapat menyingkap hakikat dengan perantarannya dan mereka mempunyai mata yang dengannya tidak dapat melihat hakikat serta mereka mempunyai telinga yang dengannya tidak dapat mendengarkannya. Mereka seperti binatang kaki empat atau lebih rendah darinya.”
Yang pasti, dalam dimensi syariat terdapat ungkapan-ungkapan para urafa Islam yang mungkin bertolak belakang dengan aturan-aturan fikih.
Seorang arif ternama di dunia Syiah Imamiyah (Tasyayyu’), Sayyid Haidar Amuli, memaparkan tiga tingkatan syariat, tarikat, hakikat untuk menyelesaikan sangkaan tentang adanya perbedaan dan pertentangan di antara tiga dimensi itu. Menurutnya, ketiga dimensi ini yang memiliki nama-nama yang berbeda hanya menceritakan satu kenyataan dan realitas. Perbedaan di antara ketiga hal itu hanyalah bersifat nisbi bukan hakiki.
Dalam sebagian ungkapannya dia menyatakan, “ … ketika perkara ini menjadi kenyataan, maka ketahuilah bahwa “syariat” adalah sebuah nama yang ditentukan untuk jalan-jalan Ilahi yang mana memiliki rukun-rukun, cabang-cabang, keringanan-keringanan, motivasi-motivasi, niat-niat, kebaikan-kebaikan, kesempurnaan-kesempurnaan. Dan “tarikat” adalah mengambil yang terbaik dan yang paling kuat di antara jalan-jalan Ilahi itu, dan setiap metode dan cara yang paling baik, paling kuat, paling hati-hati, dan paling sempurna yang dijalani oleh manusia dinamakan dengan “tarikat”, baik yang bersifat perkataan, perbuatan, sifat, dan hâl.
Sementara “hakikat” adalah pembuktian dan penegasan sesuatu dengan cara penyingkapan hati dan penyaksian intuitif… dan hal ini sebagaimana perkataan suci Rasulullah saw kepada Harits, “Wahai Harits bagaimana ketika kamu bangun di pagi hari? Harits berkata, “Saya bangun di pagi hari dalam keadaan sebagai mukmin hakiki…”.”
Beliau lebih lanjut menyatakan, “… jadi imannya kepada hal-hal yang gaib adalah benar dan “syariat”, dan penyaksiannya mengenai surga, neraka, dan arasy adalah “hakikat”, begitu pula kezuhudannya dari dunia, shalat malamnya, puasanya adalah “tarikat”. Dan dari penyingkapan ini, sebagaimana telah disebutklan terdahulu, Tuhan telah mengabarkan dalam kitab suci-Nya, “Tidaklah seperti yang kamu sangka. Seandainya kamu mengetahui ‘ilmul yakin, sungguh kamu benar-benar akan melihat neraka Jahîm kemudian sungguh kamu benar-benar akan melihatnya (surga) dengan ‘ainul yakin. (Qs. At-Takatsur: 5-7)
Yakni seperti itulah, apabila kalian mengetahui dengan ‘ilmul yakin maka setiap cermin yang anda saksikan nampaklah neraka. Dengan demikian, setiap cermin yang disaksikan dengan ‘ilmul yakin niscaya anda akan melihat realitas itu. Di ayat lain, Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya itu adalah haqqul yakin” (Qs. Al-Waqiah: 95). Sesungguhnya inilah haqqul yakin. Tingkatan pertama adalah “‘ilmul yakin” yang sederajat dengan “syariat” dan tingkatan kedua adalah “‘ainul yakin” yang sederajat dengan “tarikat” serta tingkatan ketiga adalah “haqqul yakin” yang sederajat dengan “hakikat”…”
Syahid agung dan filosof besar, Murtadha Muthahhari qs, menyatakan berkaitan dengan tiga istilah tersebut, “Salah satu perkara yang menjadi perbedaan mendasar antara urafa dan selain urafa (baca:fukaha) adalah perspektif khusus urafa berkenaan dengan syariat, tarikat, dan hakikat … para fukaha menyatakan bahwa syariat (hukum-hukum dan aturan-aturan) berpijak pada kemashlahatan-kemashlahatan. Dan kemashlahatan-kemashlahatan ini merupakan sebab-sebab dan jiwa syariat. Sementara para urafa berkeyakinan bahwa kemashlahatan-kemashlahatan yang terkandung dalam hukum-hukum sya’i sama seperti tingkatan-tingkatan dan derajat-derajat yang mengantarkan manusia kepada maqam kedekatan kepada Tuhan dan penggapaian hakikat. Para urafa percaya bahwa batin syariat adalah jalan yang dinamakan dengan tarikat, dan akhir dari jalan ini adalah hakikat… yakni yang pertama adalah lahir dan yang kedua adalah batin serta yang ketiga adalah batinnya batin.”
Dengan ungkapan lain, ingin atau tidak, manusia niscaya senantiasa berada dalam perubahan dan pergerakan. Nah, kalau perubahan dan pergerakan ini bersesuaikan dengan syariat maka setiap langkah akan mendekatkan kepada nilai-nilai kemanusiaan dan hakikat.
Bahkan, setiap kali kualitas kemanusiaannya bertambah maka sebatas itu pula hakikat itu tersingkap sedemikian sehingga mencapai maqam kedekatan kepada Tuhan dan terwarnai dengan nilai-nilai ketuhanan.
Dengan demikian, sirnalah segala macam keraguan dan kebingungan dari hatinya dan terhapuslah segala bentuk kelemahan dan kerendahan dalam lembaran wujudnya serta dirinya berubah menjadi cermin Ilahi sehingga dia dapat mengarahkan manusia lain di jalan itu.
Maka dari itu, beramal kepada syariat tidak lain adalah tarikat, dan buah dari tarikat adalah hakikat.

Setiap orang ingin hidup bahagia dan punya arti yang baik bagi orang-orang di sekelilingnya. Untuk itulah dibutuhkan suatu sikap dan perilaku yang mengarah ke arah yang baik dan menghindari yang dapat menyebabkan hal buruk pada kita. Orang yang bahagia adalah orang yang berkecukupan, diterima orang-orang di sekitarnya, bermanfaat bagi orang lain, dan bisa menggapai cita-citanya yang mungkin setinggi langit.
Beberapa Cara Untuk Mencapai Kebahagiaan Semasa Hidup Di Dunia :
1. Punya Impian/Mimpi Baik Yang Hendak Diraih Dan Berusaha Meraihnya
Untuk hidup lebih berarti kita harus punya sesuatu yang ingin kita capai dalam hidup kita dan impian itu harus bagus, megah, besar, indah, keren dan tidak jahat. Contohnya ingin membuat bahagia semua orang di dunia, ingin masuk surga, ingin jadi bintang film terkenal, ingin juara olimpiade, dan lain-lain. Yang pasti harus realistis dan dapat dicapai dengan kerja keras.
2. Menjalankan Ajaran Agama Atau Kepercayaan Yang Dianut
Buat apa kita hidup di dunia jika setelah kita mati kita masuk neraka? Lebih baik mati saja tidak pernah dilahirkan jika nanti setelah kita bangun dari kematian, ternyata kita divonis masuk neraka oleh Tuhan kita.
3. Hidup Sederhana Tidak Berlebihan, Mandiri Dan Berbagi Dengan Sesama
Kita tidak boleh manja dan menggantungkan hidup pada orang lain seperti orang tua, saudara, kakak, adik, pacar, teman, saudara, dan lain-lain. Untuk dapat hidup bahagia dalam berbagai situasi dan kondisi kita harus dapat hidup berdiri sendiri tanpa campur tangan orang lain dalam hidup kita. Hidup yang baik adalah hidup yang sederhana sesuai kebutuhan tidak bermegah-megahan dengan gaya hidup hemat dan senang berbagi rejeki kita dengan orang lain yang membutuhkan pertolongan kita.
4. Mengutamakan Keluarga Daripada Orang Lain
Bagaimanapun juga keluarga dekat harus kita tolong dan kita bina terlebih dulu dari pihak lain karena keluarga adalah orang-orang yang paling dekat dengan kita dengan ikatan yang tidak akan hilang hingga akhir hayat kita.
5. Menikah Dengan Orang Yang Tepat Dan Saling Mendukung
Temukan dan ikat seseorang yang sesuai dengan keinginan kita yang penting dia baik dan bisa mendukung kita di kala suka maupun duka dengan didasari rasa cinta pada kita. Salah pilih pasangan hidup, akan membuat kita menderita lahir dan batin sepanjang hidup kita yang memicu perceraian. Kasihan anak-anak kita jika kita selalu bermasalah dengan suami atau isteri kita.
6. Menjadi Orang Baik Dan Cerdas Serta Memusuhi Kejahatan
Untuk hidup yang memiliki arti dan manfaat bagi orang lain, kita harus menjadi orang baik-baik, suka membantu orang lain, dermawan, rendah hati, sabar, suka menolong, suka berbagi, berinteraksi sehat, dan perilaku bagus lain. Apabila orang lain suka dengan kita maka mereka akan senang membantu kita di kala kita kesusahan. Jadilah orang yang pandai dan cerdik agar jika dijahati orang kita bisa mengantisipasinya dengan baik. Kejahatan bagaimanapun bentuknya harus kita berantas hingga ke akar-akarnya agar tidak membahayakan kita dan keluarga serta keturunan kita nantinya.
7. Berteman Dengan Orang-Orang Baik Dan Menginsyafkan Yang Jahat
Orang yang berteman dengan tukang minyak wangi akan ikut jadi wangi, sedangkan orang yang berkawan dengan tukang gali comberan kotor akan ikut terciprat bau yang busuk kurang sedap di hidung. Lebih baik berkawan dengan orang baik daripada penjahat karena penjahat dapat jadi musuh jika mereka bosan dengan kita. Oleh karena itu kita harus mengubah orang yang jahat jadi baik.
8. Memiliki Penghasilan Yang Cukup Dan Ada Yang Pasif
Kalau penghasilan kurang dari umr bagaimana bisa bahagia? Untuk bisa bahagia harus cukup kebutuhan standar dan ada sisa untuk ditabung untuk kebutuhan mendesak di masa depan. Sewaktu masih muda sebaiknya membangun aset pasif yang mendatangkan penghasilan walaupun kita tidur di rumah saja kerjaannya. Tujuan pasif income yaitu adalah untuk menjamin masa tua kita bisa tetap hidup yang berkecukupan tidak mengandalkan anak cucu kita untuk bertahan hidup hingga tutup usia.
9. Punya Hobi Yang Menghilangkan Stress dan Murah Meriah
Hobi tidak harus mahal. Hobi mendengarkan musik, nonton tv, koleksi dvd bajakan, main catur, dan lain sebagainya adalah hobi yang murah meriah namun efek yang ditimbulkan sama dengan hobi yang mahal-mahal seperti nongkrong di cafe, koleksi mobil, main golf, dugem (kebiasaan buruk), dan lain-lain.
10. Membiasakan Diri Dengan Pola Hidup Sehat
Yang tidak kalah penting yakni kita harus sehat karena kalau kita punya uang berapa pun jumlahnya kalau kita sakit parah sepanjang hidup kita, kita tidak akan bisa menikmati hidup ini yang hanya sementara saja. Jagalah kesehatan kita selagi bisa dan mampu karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Biasakan hidup sehat dengan pola-pola yang sehat agar saat kita tua / lanjut usia kita bisa tetap bugar sehat walafiat.
Sekian tips kebahagiaan ini saya sampaikan semoga dapat berguna bagi kita semua. Kurang lebih mohon maaf terima kasih.

Form sign up dan Login untuk pembangunan sebuah web dengan berbasiskan member saat ini sudah menjadi tren bagi para webmaster yang ingin membangun web yang Profesional. Pada artikel ini akan dijelaskan tutorial untuk membuat form sign up dan login yang masih berbentuk sederhana. Untuk selanjutnya, anda dapat membuat sendiri pengembangan dari script ini.
1. Langkah pertama, anda harus membuat file ” Config.php”. File ini berfungsi menghubungkan script yang anda buat dengan database. Isi dari file ”config.php”
Simpan file tersebut di root web anda. Setelah selesai, anda dapat melanjutkan pada tahap yang kedua.
2. Buat file dengan nama ”create.php”. File ini berfungsi menjalankan perintah query database dalam pembuatan table signup dan login ini. Isi dari file ini dapat anda lihat dibawah.
3. Sekarang anda perlu membuat form yang digunakan pengunjung untuk sign up dan berikan nama ”register.html”. File yang anda buat ini boleh berupa halaman HTML biasa yang nantinya akan terhubung pada script php yang nantinya anda akan buat. Untuk percobaan yang sederhana, anda dapat mengkopi script di bawah pada halaman baru dreamweaver .
Pick a Username:
Pick a Password:
4. Setelah itu buat file dengan nama ”register.php”. File ini akan berfungsi sebagai perantara yang menghubungkan file register.html diatas dengan database yang sudah anda buat. Untuk isi dari file ”register.php dapat anda lihat dibawah.

5. Sekarang anda perlu membuat form member untuk Login. Beri file ini dengan nama ”login.html”. Isi dari file ini yaitu sbb.
Username:
Password:
6. Sekarang anda perlu membuat file yang akan menghubungkan file login.html dengan database, berikan nama file ini dengan ”login.php”. Scriptnya dapat anda lihat dibawah.

7. perhatikan file tersebut pada baris ketiga paling bawah, disana berisi a href=”members.php”> members.php ini adalah sebuah area yang hanya bisa dilihat oleh para member. Anda dapat membuat file members.php dengan kreasi sendiri. Sekarang saya akan menjelaskan script yang digunakan untuk mengecek cookie, apakah orang tersebut sudah login atau tidak. Simpan scipt ini di seluruh area members. Scriptnya sbb;
8. Fiuuuhhh…akhirnya script yang terakhir yaitu script untuk logout. Script ini dapat dihubungkan dengan link pada html biasa. Link ini diletakkan pada area member. Untuk isi scriptnya dapat anda lihat sbb:

Selamat berkreasi.!!!!

terjemahan

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified