IKLAN

Tampilkan postingan dengan label Artikel Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Agama. Tampilkan semua postingan

Pertanyaan:
Bagaimana dengan amalan malam Nisfu Sya’ban yang dilakukan oleh banyak orang? Apakah dibenarkan menurut agama Islam?
Jawaban:
Ada beberapa riwayat yang shahih tentang keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, tetapi tanpa mengkhususkan sebagian hari-harinya, di antaranya:
أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ  اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِيْ شَهْرٍ مِنْهُ فِيْ شَعْبَانَ، فَكَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ كُلَّهُ إِلاَّ قَلِيْلاً
Sesungguhnya Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku tidak pernah sekali pun melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali (pada) bulan Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau (banyak berpuasa -ed) dalam suatu bulan kecuali bulan Sya’ban. Beliau berpuasa pada kebanyakan hari di bulan Sya’ban.” (HR. al-Bukhari: 1868 dan HR. Muslim: 782)
Dalam hadits yang lain, Usamah bin Zaid berkata,
لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ: ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفِلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَ رَمَضَانَ، وَ هُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ اْلأَعْمَالُ فِيْهِ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَ أَنَا صَائِمٌ
“Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa dalam beberapa bulan seperti puasamu di bulan Sya’ban. Beliau menjawab, ‘Itu adalah satu bulan yang manusia lalai darinya. (Bulan itu adalah) bulan antara Rajab dan Ramadan, dan pada bulan itu amalan-amalan manusia diangkat kepada Rabbul ‘alamin, maka aku ingin supaya amalanku diangkat pada saat aku berpuasa.’ ” (HR. an-Nasa’i: 1/322, dinilai shahih oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil: 4/103)
Adapun pengkhususan hari-hari tertentu pada bulan Sya’ban untuk berpuasa atau qiyamul lail, seperti pada malam Nisfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya lemah bahkan palsu. Di antaranya adalah hadits:
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
“Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berkata, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia. Adakah demikian dan demikian?’ (Allah mengatakan hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah: 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman: 3/378)
Keterangan:
Hadits ini dari jalan Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits ini adalah hadits maudhu’/palsu, karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah tertuduh berdusta, sebagaimana dalam Taqrib milik al-Hafidz. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkata tentangnya, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.”[1]
Maka dari sini kita ketahui bahwa hadits tentang fadhilah (keutamaan –ed) menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan berpuasa di siang harinya tidaklah sah dan tidak bisa dijadikan hujjah (argumentasi). Para ulama menyatakan hal itu sebagai amalan bid’ah dalam agama.[2]
============
Catatan kaki:
[1] Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132.
[2] Lihat Fatawa Lajnah Da’imah: 4/277, fatwa no. 884.
Dijawab oleh Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali pada Majalah Al-Furqon, Edisi Khusus, tahun ke-9, 1430 H/2009 M.
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

nilah doa bacaan puasa cara niat berpuasa Ramadhan dan doa buka puasa di bulan suci Ramadhan, baik niat puasa dalam bahasa Indonesia/melayu maupun niat berpuasa dan buka puasa ramadan bahsa Arab. Yang belum punya kumpulan kata-kata Ramadhan kata mutiara bijak menyambut ramadhan dan sms Lebaran 2010 selamat Hari Idul Fitri 1431H silahkan menuju ke tkp ya.

Sebagaimana yang disampaikan oleh sahabat Rumah Islami, banyak hal yang telah dilakukan sebagai persiapan menyambut puasa namun jangan lupakan lafadz doa niat berpuasa dan doa buka puasa Ramadhan ya agar semakin sempurna ibadahnya. Silahkan dibaca saat akan berbuka dan di waktu sahur atau sebelum tidur.

Doa Niat Puasa dan Do'a Buka Puasa Ramadhan

Do'a Niat Puasa :
Nawaitu shauma godhin 'an adaai fardli syahri ramadlaani haadzihis sanati lillahi ta'aalaa

Artinya : “Sengaja aku berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu puasa pada bulan Ramadhan bagi tahun ini kerana Allah Taala “

Do'a Buka Puasa :
1. Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa 'alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohimin

Artinya : “Ya Allah karenaMu aku berpuasa, dengan Mu aku beriman, kepadaMu aku berserah dan dengan rezekiMu aku berbuka (puasa), dengan rahmat MU, Ya Allah Tuhan Maha Pengasih “
2. Dzahabazh zhaama-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah

Dalam pandangan irfan dan urafa Muslim manusia pesuluk adalah manusia yang dengan menapaki jalan-jalan spiritual ia kembali ke tempat asalnya, menyirnakan jaraknya dengan Dzat Tuhan, dan meniadakan dirinya sendiri dengan kede
Dalam pandangan irfan dan urafa Muslim manusia pesuluk adalah manusia yang dengan menapaki jalan-jalan spiritual ia kembali ke tempat asalnya, menyirnakan jaraknya dengan Dzat Tuhan, dan meniadakan dirinya sendiri dengan kedekatan kepada-nya (fana dalam asma dan sifat Tuhan) serta mengabadikan dirinya dengan kebersamaan dengan-Nya (baqa dengan dzat-Nya).
Allah Swt berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya kamu menuju kepada Tuhan-mu dengan kerja dan usaha yang sungguh-sungguh, maka kamu pasti akan menjumpai-Nya.” (Qs. Insyiqaq: 6)
Adalah sangat mungkin menggapai “hakikat” kesempurnaan manusia dan maqam kedekatan kepada Tuhan dengan melewati “tarikat” yang merupakan batin “syariat”. Dari dimensi ini, kita akan menemui kata-kata seperti “syariat”, “tarikat”, dan “hakikat” dalam ungkapan-ungkapan para urafa.
Azizuddin Nasafi, salah seorang urafa di pertengahan abad ketujuh, dalam kitabnya, Insanul Kamil, menuliskan, “Syariat adalah perkataan para nabi dan tarikat adalah perbuatan para nabi serta hakikat adalah penglihatan para nabi. Seorang salik pertama-tama harus menuntut ilmu syariat yang merupakan suatu kewajibannya dan amal tarikat yang juga merupakan kemestiannya harus dikerjakan sedemikian sehingga dia mendapatkan cahaya-cahaya hakikat sebatas kemampuan dan usahanya.
Seseorang yang menerima apa-apa yang disabdakan oleh nabi dan rasul dikategorikan sebagai ahli syariat dan apabila dia juga mengamalkan apa-apa yang dikerjakan oleh para nabi dan rasul digolongkan sebagai ahli tarikat. Dan jika seseorang menyaksikan apa-apa yang disaksikan oleh para nabi dan rasul disebutkan sebagai ahli hakikat.
Seseorang yang mempunyai ketiga dimensi tersebut tergolong sebagai sosok yang sempurna dan khalifah segenap makhluk. Namun, seseorang yang sama sekali tidak memiliki ketiga aspek itu merupakan sosok yang rendah atau digolongkan sebagai binatang ternak. “Pada hakikatnya begitu banyak dari kalangan jin dan manusia yang kami masukkan ke dalam neraka dikarenakan mereka memiliki hati yang tidak dapat menyingkap hakikat dengan perantarannya dan mereka mempunyai mata yang dengannya tidak dapat melihat hakikat serta mereka mempunyai telinga yang dengannya tidak dapat mendengarkannya. Mereka seperti binatang kaki empat atau lebih rendah darinya.”
Yang pasti, dalam dimensi syariat terdapat ungkapan-ungkapan para urafa Islam yang mungkin bertolak belakang dengan aturan-aturan fikih.
Seorang arif ternama di dunia Syiah Imamiyah (Tasyayyu’), Sayyid Haidar Amuli, memaparkan tiga tingkatan syariat, tarikat, hakikat untuk menyelesaikan sangkaan tentang adanya perbedaan dan pertentangan di antara tiga dimensi itu. Menurutnya, ketiga dimensi ini yang memiliki nama-nama yang berbeda hanya menceritakan satu kenyataan dan realitas. Perbedaan di antara ketiga hal itu hanyalah bersifat nisbi bukan hakiki.
Dalam sebagian ungkapannya dia menyatakan, “ … ketika perkara ini menjadi kenyataan, maka ketahuilah bahwa “syariat” adalah sebuah nama yang ditentukan untuk jalan-jalan Ilahi yang mana memiliki rukun-rukun, cabang-cabang, keringanan-keringanan, motivasi-motivasi, niat-niat, kebaikan-kebaikan, kesempurnaan-kesempurnaan. Dan “tarikat” adalah mengambil yang terbaik dan yang paling kuat di antara jalan-jalan Ilahi itu, dan setiap metode dan cara yang paling baik, paling kuat, paling hati-hati, dan paling sempurna yang dijalani oleh manusia dinamakan dengan “tarikat”, baik yang bersifat perkataan, perbuatan, sifat, dan hâl.
Sementara “hakikat” adalah pembuktian dan penegasan sesuatu dengan cara penyingkapan hati dan penyaksian intuitif… dan hal ini sebagaimana perkataan suci Rasulullah saw kepada Harits, “Wahai Harits bagaimana ketika kamu bangun di pagi hari? Harits berkata, “Saya bangun di pagi hari dalam keadaan sebagai mukmin hakiki…”.”
Beliau lebih lanjut menyatakan, “… jadi imannya kepada hal-hal yang gaib adalah benar dan “syariat”, dan penyaksiannya mengenai surga, neraka, dan arasy adalah “hakikat”, begitu pula kezuhudannya dari dunia, shalat malamnya, puasanya adalah “tarikat”. Dan dari penyingkapan ini, sebagaimana telah disebutklan terdahulu, Tuhan telah mengabarkan dalam kitab suci-Nya, “Tidaklah seperti yang kamu sangka. Seandainya kamu mengetahui ‘ilmul yakin, sungguh kamu benar-benar akan melihat neraka Jahîm kemudian sungguh kamu benar-benar akan melihatnya (surga) dengan ‘ainul yakin. (Qs. At-Takatsur: 5-7)
Yakni seperti itulah, apabila kalian mengetahui dengan ‘ilmul yakin maka setiap cermin yang anda saksikan nampaklah neraka. Dengan demikian, setiap cermin yang disaksikan dengan ‘ilmul yakin niscaya anda akan melihat realitas itu. Di ayat lain, Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya itu adalah haqqul yakin” (Qs. Al-Waqiah: 95). Sesungguhnya inilah haqqul yakin. Tingkatan pertama adalah “‘ilmul yakin” yang sederajat dengan “syariat” dan tingkatan kedua adalah “‘ainul yakin” yang sederajat dengan “tarikat” serta tingkatan ketiga adalah “haqqul yakin” yang sederajat dengan “hakikat”…”
Syahid agung dan filosof besar, Murtadha Muthahhari qs, menyatakan berkaitan dengan tiga istilah tersebut, “Salah satu perkara yang menjadi perbedaan mendasar antara urafa dan selain urafa (baca:fukaha) adalah perspektif khusus urafa berkenaan dengan syariat, tarikat, dan hakikat … para fukaha menyatakan bahwa syariat (hukum-hukum dan aturan-aturan) berpijak pada kemashlahatan-kemashlahatan. Dan kemashlahatan-kemashlahatan ini merupakan sebab-sebab dan jiwa syariat. Sementara para urafa berkeyakinan bahwa kemashlahatan-kemashlahatan yang terkandung dalam hukum-hukum sya’i sama seperti tingkatan-tingkatan dan derajat-derajat yang mengantarkan manusia kepada maqam kedekatan kepada Tuhan dan penggapaian hakikat. Para urafa percaya bahwa batin syariat adalah jalan yang dinamakan dengan tarikat, dan akhir dari jalan ini adalah hakikat… yakni yang pertama adalah lahir dan yang kedua adalah batin serta yang ketiga adalah batinnya batin.”
Dengan ungkapan lain, ingin atau tidak, manusia niscaya senantiasa berada dalam perubahan dan pergerakan. Nah, kalau perubahan dan pergerakan ini bersesuaikan dengan syariat maka setiap langkah akan mendekatkan kepada nilai-nilai kemanusiaan dan hakikat.
Bahkan, setiap kali kualitas kemanusiaannya bertambah maka sebatas itu pula hakikat itu tersingkap sedemikian sehingga mencapai maqam kedekatan kepada Tuhan dan terwarnai dengan nilai-nilai ketuhanan.
Dengan demikian, sirnalah segala macam keraguan dan kebingungan dari hatinya dan terhapuslah segala bentuk kelemahan dan kerendahan dalam lembaran wujudnya serta dirinya berubah menjadi cermin Ilahi sehingga dia dapat mengarahkan manusia lain di jalan itu.
Maka dari itu, beramal kepada syariat tidak lain adalah tarikat, dan buah dari tarikat adalah hakikat.

image Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.

Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, "Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras."

Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.

Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (alaihi laknat),

"Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?" Maka jawab Nabi dengan marah, "Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.

Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?"

Taklimat Iblis, "Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya."

Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, "Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu."

Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.


Pertanyaan Nabi (1):
"Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?"


Jawab Iblis:
"Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini."


Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, "Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.

Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku."


Pertanyaan Nabi (2):
"Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?"


Jawab Iblis:
"Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.

Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.

Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat."



Pertanyaan Nabi (3):
"Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?"


Jawab Iblis:
"Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.

Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.

Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.

Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain aripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid'ah dan carut-marut.

Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut."



Pertanyaan Nabi (4):
"Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?"


Jawab Iblis:
"Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku"



Pertanyaan Nabi (5):
"Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?"


Jawab Iblis:
"Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya.

Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya - matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman."



Pertanyaan Nabi (6):
"Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?"


Jawab Iblis:
"Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya."



Pertanyaan Nabi (7):
"Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?"


Jawab Iblis:
"Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya."



Pertanyaan Nabi (8):
"Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?"


Jawab Iblis:
"Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa."



Pertanyaan Nabi (9):
"Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?"


Jawab Iblis:
"Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar - besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: "Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk."

Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a'zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.

Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, "Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku", karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar 'Al-Faruq'.

Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, "Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid."

Saidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar 'Ali Karamullahu Wajhahu' - dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga 'Harimau Allah' dan engkau sendiri berkata, "Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya." Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya."


Pertanyaan Nabi (10):
"Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?"

Jawab Iblis:
"Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s, "Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat." Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat.


Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur."

Pertanyaan Nabi (11):
"Siapa yang serupa dengan engkau?"


Jawab Iblis:
"Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam."



Pertanyaan Nabi (12):
"Siapa yang mencahayakan muka engkau?"


Jawab Iblis:
"Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji."



Pertanyaan Nabi (13):
"Apakah rahasia engkau kepada umatku?"


Jawab Iblis:
"Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari."



Pertanyaan Nabi (14):
"Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?"


Jawab Iblis:
"Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang."



Pertanyaan Nabi (15):
"Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?"


Jawab Iblis:
"Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu', maka padamlah marahnya."



Pertanyaan Nabi (16):
"Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?"


Jawab Iblis:
Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu."



Pertanyaan Nabi (17):
"Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?"


Jawab Iblis:
"Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya', aku beratkan hatinya untuk sholat."



Pertanyaan Nabi (18):
"Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?"


Jawab Iblis:
"Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam."



Pertanyaan Nabi (19):
"Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?"


Jawab Iblis:
"Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya"



Pertanyaan Nabi (20):
"Apa lagi yang memecahkan mata engkau?"


Jawab Iblis:
"Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda, 'Syurga itu di bawah tapak kaki ibu'" 




Dari Rajâ` bin ‘Umar an-Nakha’iy, dia berkata,
“Di Kufah ada seorang pemuda berparas tampan, sangat rajin beribadah dan sungguh-sungguh. Dia juga termasuk salah seorang Ahli Zuhud. Suatu ketika, dia singgah beberapa waktu di perkampungan kaum Nukha’ lalu –tanpa sengaja- matanya melihat seorang wanita muda mereka yang berparas elok nan rupawan. Ia pun tertarik dengannya dan akalnya melayang-layang karenanya. Rupanya, hal yang sama dialami si wanita tersebut. Pemuda ini kemudian mengirim utusan untuk melamar si wanita kepada ayahnya namun sang ayah memberitahukannya bahwa dia telah dijodohkan dengan anak pamannya (sepupunya). Kondisi ini membuat keduanya begitu tersiksa dan teriris.
Lalu si wanita mengirim utusan kepada si pemuda ahli ibadah tersebut berisi pesan, ‘Sudah sampai ke telingaku perihal kecintaanmu yang teramat dalam kepadaku dan cobaan ini begitu berat bagiku disertai liputan perasaanku terhadapmu. Jika berkenan, aku akan mengunjungimu atau aku permudah jalan bagimu untuk datang ke rumahku.’ Lantas dia berkata kepada utusannya itu, ‘Dua-duanya tidak akan aku lakukan. Dia kemudian membacakan firman-Nya, ‘Sesungguhnya aku takut siksaan pada hari yang agung jika berbuat maksiat kepada Rabbku.’ (Q.s.,az-Zumar:13) Aku takut api yang lidahnya tidak pernah padam dan jilatannya yang tak pernah diam.’

Tatkala si utusan kembali kepada wanita itu, dia lalu menyampaikan apa yang telah dikatakan pemuda tadi, lantas berkatalah si wanita,
‘Sekalipun yang aku lihat darinya dirinya demikian namun rupanya dia juga seorang yang amat zuhud, takut kepada Allah? Demi Allah, tidak ada seorang pun yang merasa dirinya lebih berhak dengan hal ini (rasa takut kepada Allah) dari orang lain. Sesungguhnya para hamba dalam hal ini adalah sama.’

Kemudian dia meninggalkan gemerlap dunia, membuang semua hal yang terkait dengannya, mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu (untuk menampakkan kezuhudan) dan berkonsentari dalam ibadah. Sekalipun demikian, dia masih hanyut dan menjadi kurus kering karena cintanya terhadap si pemuda serta perasaan kasihan terhadapnya hingga akhirnya dia meninggal dunia karena memendam rasa rindu yang teramat sangat kepadanya.

Sang pemuda tampan pun sering berziarah ke kuburnya. Suatu malam, dia melihat si wanita dalam mimpi seolah dalam penampilan yang amat bagus, seraya berkata kepadanya, ‘Bagaimana kabarmu dan apa yang engkau temukan setelahku.?’ Si wanita menjawab,
Sebaik-baik cinta, adalah cintamu wahai kekasih
Cinta yang menggiring kepada kebaikan dan berbuat baik


Kemudian dia bertanya lagi, ‘Ke mana kamu akan berada.?’ Dia menjawab,
Ke kenikmatan dan hidup yang tiada habisnya
Di surga nan kekal, milik yang tak pernah punah


Dia berkata lagi kepadanya, ‘Ingat-ingatlah aku di sana karena aku tidak pernah melupakanmu.’ Dia menjawab, ‘Demi Allah, akupun demikian. Aku telah memohon Rabbku, Mawla -ku dan kamu, lantas Dia menolongku atas hal itu dengan kesungguhan.’ Kemudian wanita itupun berpaling. Lantas aku berkata kepadanya, ‘Kapan aku bisa melihatmu.?’ Dia menjawab, ‘Engkau akan mendatangi kami dalam waktu dekat.’

Rupanya benar, pemuda itu tidak hidup lama lagi setelah mimpi itu, hanya tujuh malam. Dan, setelah itu, dia pun menyusul, berpulang ke rahmatullah. Semoga Allah merahmati keduanya.

(Sumber: al-Maw’id Jannât an-Na’îm karya Ibrâhîm bin ‘Abdullah al-Hâzimy, ha.14-15, sebagai yang dinukilnya dari bukunya yang lain berjudul Man Taraka Syai`an Lillâh ‘Awwadlahullâh Khairan Minhu)

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :
Yang Disebut Muslim Dan MukminTerlahir didunia ini sebagai seorang muslim. muslim secara umum adalah sebutan bagi orang yang beragama Islam. akan tetapi, bagaimana cara seseorang muslim untuk bisa membanggakan statusnya sebagai seorang muslim?

"aku adalah seorang muslim." mungkin mudah mengatakannya. akan tetapi, apakah kita sadar akan status yang kita sandang sebagai seorang muslim? karena bukanlah seorang muslim yang belum menyerahkan hati dan lisannya kepada Allah. menyerahkan hati dengan segala keikhlasan akan apa yang Allah berikan kepada kita dan akan apa yang ditimpakan atas kita. tunduk serta takut akan perintah dan larangan-Nya. beramal hanya karena Allah semata dengan penuh keikhlasan dalam jiwa. tidak mengharapkan apapun kecuali ridho Allah -ta'ala-.

Menyerahkan lisan dengan cara membasahi lisan ini dengan dzikir kepada-Nya. senantiasa bersyukur atas apa yang diberikan kepada kita berupa kenikmatan. dan membujuk diri untuk selalu sabar atas apa yang ditimpakan atas kita berupa musibah dan masalah.

Jika seseorang tidak bisa menyerahkan hati dan lisannya kepada Allah, maka janganlah pernah bangga diri sebagai orang muslim, karena seorang muslim adalah orang yang menyerahkan hati dan lisan kepada Allah -ta'ala-.

Hal yang lain yang lebih tinggi selain status sebagai seorang muslim adalah status sebagai orang yang beriman. dan janganlah seseorang mengatakan bahwa dirinya telah beriman jika masih saja berbuat curang, dholim, dan mencela orang lain. lebih-lebih terhadap tetangga dekat rumah. jika belum bisa membuat tetangganya nyaman dan aman dari keburukannya, maka dia belum beriman dengan sebenar-benarnya iman.

Semua hal ini terangkum dalam sabda Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- berikut :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُسْلِمُ عَبْدٌ، حَتَّى يُسْلِمَ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ وَلَا يُؤْمِنُ حَتَّى يَأْمَنَ جَارُهُ بَوَائِقَهُ قَالُوا وَمَا بَوَائِقُهُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ؟ قَالَ غِشُّهُ وَظُلْمُهُ

Artinya : "Dan demi Dzat yang diriku berada digenggaman-Nya, tidaklah seorang hamba itu islam kecuali benar-benar menyerahkan hati dan lisannya. dan tidaklah seorang itu beriman sampai tetangganya bisa aman dari keburukannya. para sahabat bertanya : apa itu keburukannya wahai Nabi Allah? beliau menjawab : kecurangannya dan kedholimannya." (HR Ahmad)



 
Faktor-faktor  yang  menimbulkan  penyembahan   manusia
kepada  ciptaan  adalah  ketidaktahuannya  dan tuntutan
alami yang  mutlak  dalam  dirinya  yang  pada  umumnya
mempercayai adanya suatu penyebab bagi setiap fenomena.
Di satu sisi, manusia, yang dikuasai oleh kodrat alami,
merasa harus mencari perlindungan di suatu tempat, pada
suatu pewenang kuat yang mampu menciptakan sistem  yang
unik  ini.  Namun,  di  sisi  lain, ketika ia bermaksud
menempuh jalan ini tanpa tuntunan  para  nabi  -pemandu
Ilahi  dan  telah  ditunjuk untuk menjamin kesempurnaan
perjalanan rohani manusia- ia mencari perlindungan pada
makhluk-makhluk  tak-bernyawa,  hewan,  ataupun  sesama
manusia  sebelum  ia  dapat  mencapai  tujuannya   yang
sesungguhnya,  yakni  Tuhan  Yang  Esa, dan mendapatkan
jejak-jejak-Nya dengan mengamati tanda-tanda penciptaan
dan  mencari perlindungan pada-Nya. Oleh karena itu, ia
membayangkan bahwa inilah  obyek  yang  dicari-carinya.
Melihat  ini,  para  ilmuwan mengakui, setelah mengkaji
kitab-kitab Ilahi dan cara bagaimana dakwah disampaikan
kepada manusia oleh para nabi serta argumentasi mereka,
bahwa  tujuan  para  nabi  bukanlah  untuk   meyakinkan
manusia   tentang   adanya   pencipta   alam   semesta.
Sesungguhnya,  peran   mereka   yang   mendasar   ialah
membebaskan manusia dan cengkeraman syirik (politeisme)
dan  penyembahan  berhala.  Dengan  kata  lain,  mereka
datang  untuk  mengatakan kepada manusia, "Hai manusia!
Allah  yang  kita  semua  percaya  akan  keberadaan-Nya
adalah  ini, bukan itu. Ia esa, bukan berbilang. Jangan
memberikan status Allah kepada makhluk. Terimalah Allah
sebagai Yang Esa. Jangan menerima mitra atau sekutu apa
pun bagi-Nya."
 
Kalimat "tiada Tuhan  selain  Allah,"  membuktikan  apa
yang  kami  katakan  di  atas. Inilah titik mula dakwah
Nabi  Muhammad.  Maksud  kalimat  ini  ialah,  tak  ada
sesuatu  yang  patut  disembah  selain  Allah,  dan ini
berarti bahwa adanya  Pencipta  telah  merupakan  fakta
yang   diakui,  sehingga  manusia  dapat  diajak  untuk
menerima  kemaha-esaan-Nya.  Kalimat  ini   menunjukkan
bahwa di mata manusia zaman itu, bagian pertama -adanya
Tuhan yang menguasai alam semesta-  bukanlah  hal  yang
perlu  dipertengkarkan.  Disamping itu, kajian terhadap
kisah-kisah Qur'ani dan  percakapan  para  nabi  dengan
umat zamannya memperjelas masalah ini.
 
[Catatan   kaki:   Tetapi,  bagaimana  konsepsi  mereka
tentang  berhala?  Apakah  mereka  memandangnya   patut
disembah  dan  hanya  untuk  menjadi perantara, ataukah
mereka berpikir bahwa berhala-berhala itu pun mempunyai
kekuasaan  seperti  Allah?  Masalah  ini berada di luar
bahasan kita sekarang, walaupun pandangan  pertama  itu
kuat dan terbukti.]
 
TEMPAT KELAHIRAN NABI IBRAHIM
 
Jawara   Tauhid  ini  dilahirkan  di  lingkungan  gelap
penyembahan berhala dan  penyembahan  manusia.  Manusia
menundukkan  kerendahan hati kepada berhala yang dibuat
dengan tangannya sendiri, atau kepada  bintang-bintang.
Dalam   situasi  ini,  hal  yang  mengangkat  kedudukan
Ibrahim dan menyukseskan usahanya adalah kesabaran  dan
ketabahannya.
 
Tempat   kelahiran  pembawa  panji  tauhid  ini  adalah
Babilon. Para sejarawan  telah  menyatakan  negeri  itu
sebagai  salah  satu dari tujuh keajaiban dunia. Mereka
telah mencatat banyak  riwayat  tentang  keagungan  dan
kehebatan   peradaban  wilayah  itu.  Sejarawan  Yunani
kenamaan, Herodotus  (483-425  SM),  menulis,  "Babilon
dibangun  di  sebuah  lapangan  persegi-panjang  setiap
sisinya 480 km (120 league), sehingga kelilingnya 1.920
km.    Pernyataan   ini,   betapapun  dibesar-besarkan,
mengungkapkan  realitas  yang   tak   terbantah-apabila
dibaca bersama tulisan-tulisan lainnya.
 
Namun,    dari    pemandangannya   yang   menarik   dan
istana-istananya yang tinggi, tak ada lagi  yang  dapat
dilihat  sekarang  selain  tumpukan  lempung, di antara
sungai Tigris  dan  Efrat,  yang  diliputi  kebungkaman
maut.  Kebungkaman  itu  kadang-kadang  dipecahkan oleh
para  orientalis  yang   melakukan   penggalian   untuk
mendapatkan informasi tentang peradaban Babilonia.
 
Nabi   Ibrahim,  pelopor  tauhid,  dilahirkan  di  masa
pemerintahan  Namrud  putra  Kan'an.  Walaupun   Namrud
menyembah   berhala,  ia  juga  mengaku  sebagai  tuhan
(dewa). Dengan memanfaatkan kejahilan rakyat yang mudah
percaya, ia memaksakan kepercayaannya kepada mereka.
 
Mungkin  nampak  agak  ganjil  bahwa  seorang penyembah
berhala mengaku pula  sebagai  dewa.  Namun,  Al-Qur'an
memberikan   kepada  kita  suatu  contoh  lain  tentang
kepercayaan  ini.  Ketika  Musa  mengguncang  kekuasaan
Fir'aun   dengan   logikanya   yang  kuat  dan  menguak
kebohongannya  dalam   suatu   pertemuan   umum,   para
pendukung   Fir'aun  berkata  kepadanya,  "Apakah  kamu
membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di negeri
ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?"
(QS, Surah al-A'raf,  7:127).  Telah  termasyhur  bahwa
Fir'aun  mengaku  sebagai  tuhan  dan biasa menyerukan,
"Aku adalah tuhanmu yang  tertinggi."  Namun  ayat  ini
menunjukkan bahwa ia juga seorang penyembah berhala.
 
Dukungan  terbesar  yang  diperoleh  Namrud datang dari
para  astrolog  dan  penenung  yang  dipandang  sebagai
orang-orang  pintar di zaman itu. Ketundukan mereka ini
membuka  jalan  bagi  Namrud  untuk  memanfaatkan  kaum
tertindas  dan  kalangan  bodoh.  Selain  itu, sebagian
famili Ibrahim, misalnya Azar yang membuat berhala  dan
juga  memahami astrologi, termasuk pengikut Namrud. Ini
saja  sudah  merupakan  halangan  besar  bagi  Ibrahim,
karena  di  samping  harus berjuang melawan kepercayaan
umum itu, ia  juga  harus  menghadapi  perlawanan  kaum
kerabatnya sendiri.
 
Namrud telah menerjunkan diri ke dalam laut kepercayaan
takhayul. Ia telah membentangkan permadani untuk  pesta
dan   minum-minum   ketika  para  astrolog  membunyikan
lonceng bahaya pertama seraya mengatakan, "Pemerintahan
Anda  akan  runtuh  melalui  seorang putra negeri ini."
Ketakutan laten Namrud bangkit. Ia bertanya, "Apakah ia
telah  lahir  atau  belum?"  Para astrolog itu menjawab
bahwa ia belum lahir. Ia kemudian memerintahkan  supaya
diadakan  pemisahan  antara  perempuan dan laki-laki-di
malam yang, menurut ramalan  para  astrolog,  kehamilan
musuh mautnya itu akan terjadi. Walaupun demikian, para
algojonya  membunuh  anak-anak  laki-laki.  Para  bidan
diperintahkan    untuk   melaporkan   rincian   tentang
anak-anak yang baru lahir ke suatu kantor khusus.
 
Pada malam itu juga terjadi kehamilan  Ibrahim.  Ibunya
hamil   dan,   seperti   ibu   Musa  putra  'Imran,  ia
merahasiakan  kehamilan  itu.  Setelah  melahirkan,  ia
menyelamatkan  diri ke suatu gua yang terletak di dekat
kota itu, untuk melindungi nyawa anaknya tersayang.  Ia
meninggalkan   anaknya   di   suatu   sudut   gua,  dan
mengunjunginya di waktu siang  atau  malam,  tergantung
situasi.  Dengan  berlalunya waktu, Namrud merasa aman.
Ia percaya bahwa musuh tahta dan pemerintahannya  telah
dibunuh.
 
Ibrahim  menjalani  tiga belas tahun kehidupannya dalam
sebuah gua dengan lorong  masuk  yang  sempit,  sebelum
ibunya  membawanya  keluar.  Ketika  muncul  di  tengah
masyarakat, para pendukung Namrud merasa bahwa ia orang
asing.  Terhadap  hal  itu,  ibunya  berkata, "Ini anak
saya. Ia lahir sebelum ramalan para astrolog."  (Tafsir
al-Burhan, I, h. 535).
 
Ketika  keluar  dari  gua, Ibrahim memperkuat keyakinan
batinnya dalam tauhid dengan mengamati bumi dan langit,
bintang-bintang  yang  bersinar, dan pohon-pohonan yang
hijau. Ia menyaksikan masyarakat yang aneh.  Dilihatnya
sekelompok   orang  yang  memperlakukan  sinar  bintang
dengan sangat tolol. Ia  juga  melihat  beberapa  orang
dengan  tingkat  kecerdasan  yang  bahkan lebih rendah.
Mereka membuat berhala dengan tangan sendiri,  kemudian
menyembahnya.  Yang  terburuk dari semuanya ialah bahwa
seorang manusia, dengan mengambil keuntungan secara tak
semestinya dari kejahilan dan kebodohan rakyat, mengaku
sebagai  tuhan  mereka  dan  menyatakan  diri   sebagai
pemberi  hidup  kepada semua makhluk dan penakdir semua
peristiwa.
 
Nabi Ibrahim  merasa  harus  mempersiapkan  diri  untuk
memerangi tiga kelompok yang berbeda ini.
 
IBRAHIM BERJUANG MELAWAN PENYEMBAHAN BERHALA
 
Kegelapan  penyembahan  berhala  telah meliputi seluruh
Babilon, tempat lahir Nabi Ibrahim, Banyak tuhan  dunia
dan  langit  telah  merenggut  hak menalar dan berpikir
dari berbagai lapisan masyarakat. Sebagiannya memandang
tuhan-tuhan itu memiliki kekuasaan sendiri, sedang yang
lainnya memperlakukan mereka  sebagai  perantara  untuk
memperoleh nikmat dari Tuhan Yang Mahakuasa.
 
RAHASIA POLITEISME
 
Orang Arab sebelum datangnya Islam percaya bahwa setiap
makhluk dan setiap gejala tentulah  mempunyai  penyebab
tersendiri,  dan  bahwa  Tuhan  Yang  Esa  tidak  mampu
menciptakan semuanya. Pada masa itu,  ilmu  pengetahuan
memang  belum  menemukan  hubungan  antara  makhluk dan
fenomena  alami  serta   berbagai   kejadian.   Sebagai
akibatnya,  orang-orang  itu  mengkhayalkan bahwa semua
mahluk   dan   berbagai    fenomena    alami    berdiri
sendiri-sendiri  dan  tidak  ada kaitan satu sama lain.
Karena  itu,  mereka  menganggap  bahwa  untuk   setiap
fenomena  seperti  hujan  dan  salju,  gempa  bumi  dan
kematian,  paceklik  dan  kesukaran,   perdamaian   dan
ketentraman,   kekejaman  dan  pertumpahan  darah,  dan
sebagainya,  ada  tuhannya  masing-masing.  Mereka  tak
menyadari  bahwa  seluruh  alam  semesta  adalah  suatu
kesatuan,  di  mana  bagiannya   saling   terkait   dan
masing-masingnya mempunyai efek timbal balik.
 
Pikiran  bersahaja  manusia  masa  itu belum mengetahui
rahasia penyembahan kepada Allah  Yang  Esa  dan  tidak
menyadari  bahwa  Allah  yang  menguasai  alam  semesta
adalah Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahatahu, Pencipta yang
bebas  dari  segala  kelemahan  dan  cacat.  Kekuasaan,
kesempurnaan, pengetahuan, dan  kebijaksanaanNya  tiada
berbatas.  Ia  di  atas segala sesuatu yang dianggapkan
kepada-Nya. Tak ada kesempurnaan yang tidak Ia  miliki.
Tak  ada  kemungkinan yang tak dapat diciptakan-Nya. Ia
adalah Allah Yang Esa  yang  mampu  menciptakan  segala
makhluk  dan  fenomena tanpa bantuan dan dukungan siapa
pun. Ia dapat menciptakan makhluk lain dengan cara yang
sama  sebagaimana  Ia  menciptakan makhluk-makhluk yang
ada sekarang.
 
Karena itu, secara nalar, adanya perantaraan dari suatu
wewenang  yang  dapat  mengurangi  kemandirian kehendak
Allah  yang  tidak  bersekutu,  tidak  dapat  diterima.
Kepercayaan  bahwa alam semesta mempunyai dua pencipta,
yang satu merupakan sumber kebaikan dan  cahaya  sedang
yang   satu   lagi   merupakan   sumber  kejahatan  dan
kegelapan, juga tak dapat diterima.  Kepercayaan  bahwa
ada  perantaraan  oleh  seseorang,  seperti  Maryam dan
'Isa, dalam hal penciptaan  alam  semesta,  atau  bahwa
pengaturan  tatanan  dunia  fisik telah dikuasakan pada
seorang  manusia,  merupakan  manifestasi  syirik   dan
kelebih-lebihan.  Penganut  tauhid,  dengan rasa hormat
yang  sewajarnya  kepada  para  nabi  dan  orang  suci,
memelihara  keyakinan  pada  Pencipta Alam Semesta, dan
tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain.
 
Metode yang digunakan para nabi untuk memberi pelajaran
dan  tuntutan  kepada  manusia  ialah metode logika dan
penalaran,  karena  mereka  berurusan  dengan   pikiran
manusia.  Mereka berhasrat mendirikan pemerintahan yang
didasarkan pada keimanan,  pengetahuan,  dan  keadilan,
dan   pemerintahan  semacam  itu  tak  dapat  didirikan
melalui kekerasan, peperangan, dan  pertumpahan  darah.
Oleh  karena  itu,  kita  harus membedakan pemerintahan
para  nabi  dengan  pemerintahan  Fir'aun  dan  Namrud.
Tujuan  dari  kelompok  yang  kedua  ini  ialah amannya
kekuasaan dan pemerintahan mereka  dengan  segala  cara
yang  mungkin,  sekalipun  negara  akan  runtuh setelah
mereka mati.  Sebaliknya,  orang-orang  suci  bermaksud
mendirikan  pemerintahan  yang  membawa  maslahat  pada
individu maupun masyarakat, baik penguasa itu kuat atau
lemah  pada  suatu  waktu  tertentu, sementara ia hidup
maupun sesudah ia mati. Tujuan semacam itu  tentu  saja
tak dapat dicapai dengan kekerasan dan tekanan.
 
Ibrahim  pertama-tama berjuang melawan kepercayaan kaum
kerabatnya  yang  menyembah  berhala,  di   mana   Azar
merupakan  pentolannya.  Sebelum  mencapai keberhasilan
penuh dalam bidang ini, ia sudah  harus  berjuang  pada
bidang  operasi  lainnya. Taraf pemikiran kelompok yang
kedua ini agak lebih tinggi dan lebih jelas  dari  yang
pertama.  Berlawanan  dengan agama para famili Ibrahim,
mereka ini telah membuang makhluk-makhluk duniawi  yang
hina  dan  tak berharga, lalu memuja bintang di langit.
Ketika melawan  pemujaan  bintang,  Ibrahim  menyatakan
dengan kata-kata sederhana sejumlah kebenaran filosofis
dan ilmiah yang belum dipahami oleh  manusia  di  zaman
itu,   bahkan   sekarang   pun  argumennya  menimbulkan
kekaguman para sarjana yang sangat mengenal seni logika
dan perdebatan. Di atas semua ini, Al-Qur'an juga telah
mengutip argumen-argumen  Ibrahim,  dan  kami  mendapat
kehormatan untuk mengutipnya dengan penjelasan singkat.
 
Untuk dapat menuntun masyarakatnya, suatu malam Ibrahim
menatap ke langit  di  saat  terbenamnya  matahari  dan
terus   terjaga   hingga   ia  terbenam  lagi  di  hari
berikutnya.  Selama  24  jam  ini   ia   berdebat   dan
berdiskusi   dengan   tiga  kelompok,  dan  menyalahkan
kepercayaan mereka dengan argumen-argumennya yang kuat.
 
Kegelapan  malam  mendekat  dan  menyembunyikan  segala
tanda  kehidupan.  Bintang  Venus yang cemerlang muncul
dari suatu sudut cakrawala.  Untuk  merebut  hati  para
pemuja  Venus,  Ibrahim menyesuaikan diri dengan mereka
dan mengikuti garis pikiran mereka  seraya  mengatakan,
"Itu  adalah  pemeliharaku."  Namun, ketika bintang itu
tenggelam dan menghilang di suatu  sudut,  ia  berkata,
"Saya  tak dapat menerima tuhan yang tenggelam." Dengan
penalarannya yang alami, ia  menolak  kepercayaan  para
pemuja Venus dan membuktikan kebatilannya.
 
Pada  tahap  berikutnya,  matanya tertuju pada bundaran
bulan yang bercahaya terang  dengan  keindahannya  yang
memukau.  Dengan  maksud  merebut  hati  pemuja  bulan,
secara lahiriah ia bersikap  seakan  bulan  itu  tuhan,
tapi  kemudian  ia  merontokkan  kepercayaan itu dengan
logikanya yang kuat. Demikianlah, ketika Yang Mahakuasa
membenamkan  bulan  itu  di balik cakrawala, dan cahaya
serta keindahannya lenyap dari muka  bumi,  maka  tanpa
menyinggung  perasaan  para  pemuja  bulan itu, Ibrahim
berkata,  "Apabila  Tuhanku  yang  sesungguhnya   tidak
membimbing aku, tentulah aku tersesat, karena tuhan ini
terbenam seperti bintang dan tunduk pada suatu  tatanan
dan  sistem  yang pasti yang dibentuk oleh sesuatu yang
lain."
 
Kegelapan  malam  berakhir  dan  matahari  pun  muncul,
membuka cakrawala, dan menyebarkan sinar keemasannya ke
muka  bumi.  Para  pemuja  matahari  memalingkan  wajah
mereka    kepada   tuhannya.   Untuk   menaati   aturan
perdebatan,  Ibrahim  juga  bersikap  seolah   mengakui
ketuhanan   matahari.   Namun,   terbenamnya   matahari
mengukuhkan bahwa ia  tunduk  pada  suatu  sistem  alam
semesta   yang   umum,   dan   Ibrahim  secara  terbuka
menolaknya  sebagai  yang  patut  disembah.(lihat   QS,
al-An'am, 6:75-79)
 
Tak  diragukan  bahwa  saat  tinggal  di  gua,  melalui
anugerah Ilahi yang  luar  biasa,  Ibrahim  mendapatkan
dari sumber yang gaib pengetahuan batin tentang tauhid,
yang merupakan kekhususan  para  nabi.  Namun,  setelah
memperhatikan  dan mengkaji benda-benda langit, ia juga
memberikan bentuk  argumentasi  pada  pengetahuan  itu.
Dengan  demikian,  di  samping  menunjukkan  jalan yang
benar  kepada  manusia  dan  memberikan  kepada  mereka
sarana    bimbingan,    Ibrahim    telah   meninggalkan
pengetahuan yang  tak  ternilai  untuk  digunakan  oleh
orang-orang yang mencan kebenaran dan realitas.

terjemahan

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified